Senin, 19 November 2012

LAPORAN PENDAHULUAN FEBRIS (DEMAM)


LAPORAN PENDAHULUAN
FEBRIS (DEMAM)
A. PENGERTIAN
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal.
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :
1. Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
3. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.
B. ETIOLOGI
Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik.
Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam.
Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya.
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.
D. PENATALAKSANAAN THERAPEUTIK
1. Antipiretik
2. Anti biotik sesuai program
3. Hindari kompres alkohol atau es
E. PENGKAJIAN
1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
2. Melakukan pemeriksaan fisik.
3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG.
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.
2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang.
4. Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
G. PERENCANAAN
No. Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi
1 Hypertermi b/d proses infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….x 24 jam menujukan temperatur dalan batas normal dengan kriteria:
- Bebas dari kedinginan
- Suhu tubuh stabil 36-37 C 1. Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis
2. Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi
3. Berikan kompres hangat hindri penggunaan akohol
4. Berikan miman sesuai kebutuhan
5. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
2 Resiko injuri b/d infeksi mikroorganisme Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …… 24 jam anak bebas dari cidera dengan kriteria:
- menunjukan homeostatis
- tidak ada perdarahan mukosa dan bebas dari komplikasi lain
1. Kaji tanda-tanda komplikasi lanjut
2. Kaji status kardiopulmonar
3. Kolaborasi untuk pemantauan laboratorium: monitor darah rutin
4. Kolaborasi untuk pembereian antibiotik
3 Resiko kurang volume cairan b/d intake yang kurang Setelah dilakukan tindakan perawatan selama ….x 24 jam volume cairn adekuat dengan kriteria:
- tanda vital dalam batas normal
- nadi perifer teraba kuat
- haluran urine adekuat
- tidak ada tanda-tanda dehidrasi
1. Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidak seimbangan masukan dan haluran kumulatif
2. Pantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP
3. Palpasi denyut perifer
4. Kaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa halus
5. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi
6. Pantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS
4 Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit Setelah dilakukan tindakan perawatan selama .. x 24 jam cemas hilang dengan kriteria:
- klien dapat mengidentifikasi hal-hal yang dapat meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh
- klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan
- klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi, proses penyakit
1. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi
2. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi
3. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa kecemasam merupakan respon yang normal
4. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit
ASUHAN KEPERAWATAN
Nama mahasiswa : 1. Agus Indarto ( )
2. Riyanah (KP. 04.00275)
Tempat praktek : RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Tanggal Pengkajian : 23 juni 2009
Tanggal Praktek : 22 juni 2009 s/d 27 juni 2009
I. IDENTITAS DATA.
Nama Klien : An. S
No. Rekam Medis : 580787
Tempat/tgl lahir : Wanglu 11 januari1998
Umur : 11 tahun 5 bulan 12 hari
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Jawa
Bahasa yang dimengerti : Jawa dan indonesia.
Agama : Islam
Nama Ayah/Ibu/Wali : Bp. Ahmad Andi
Pekerjaan Ayah/Ibu/wali : Buruh harian lepas
Pendidikan : SMA
Alamat ayah/ibu/wali : DK. Wanglu Rt/ Rw 020/ 010 Kelurahan Wanglu Kecamatan
Trucuk
Diagnosa Medis : Febris hari ke- 3
II. KELUHAN UTAMA
Panas sudah 3hari disertai dengan pusing, merasa pegal-pegal
III. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI
3 HSMRS klien panas, muntah 3x, pusing, mual, muntah, makan minum mau, BAB masih bisa, BAK masih bisa, akral dingin. Klien dibawa ke dr. Suharyanto diberi obat penurun panas tetapi tidak membaik lalu dirujuk ke IRD RS Suradji dengan febris hari ke 3, klien dilakukan pemasangan infuse RL dan dipindah ke Ruang Melati 1 anak.
IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
a. Prenatal : Selama kehamilan ibu mengatakan tidak pernah mengalami kesulitan/ penyulit kehamilan. Ibu memeriksakan diri secara rutin ke puskesmas terdekat, ibu tidak merokok dan tidak minum-minuman alcohol.
b. Peri natal dan post natal
Persalinan normal pervaginam tanpa komplikasi, persalinan di puskesmas dan ditolong oleh bidan.
c. Penyakit yang pernah diderita
Sebelumnya anak tidak pernah menderita sakit parah hanya batuk, pilek biasa dan demam tanpa kejang.
d. Hospitalisasi/ tindakan operasi
Klien belum pernah dirawat dirumah sakit dan tidak pernah dilakukan tindakan operasi sebelumnya
e. Injury/kecelakaaan
Keluarga mengatakan anak belum pernah mengalami trauma atau kecelakaan
f. Alergi
Riyawat alergi tidak / belum diketahui
g. Imunisasi dan tes laboratorium
Imunisasi lengkap sesuai usia. Ibu selalu membawanya ke posyandu balita.
h. Pengobatan
Klien / anak tidak mendapatkan pengobatan khusus sebelumnya hanya obat-obat seperti puyer dan syrup yang didapatkan dari puskesmas
V. RIWAYAT PERTUMBUHAN
Dari bayi hingga sekarang tidak mengalami gangguan pertumbuhan, .
VI. RIWAYAT SOSIAL
a. Yang mengasuh
Anak tinggal dengan orang tuanya dan diasuh oleh ibunya sendiri.
b. Hubungan dengan anggota keluarga
Hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga lainya baik
c. Hubungan dengan teman sebaya
hubungan dengan teman sebaya baik, anak senang berkumpul dan bermain dengan
teman-teman.
d. Pembawaan secara umum
Secara umum anak ceria, anak tidak malu dengan orang yang baru dikenal, dapat
mengekspresikan perasaanya secara verbal.
VII. RIWAYAT KELUARGA
a. Sosial Ekonomi
Bapak seorang buruh harian lepas. Penghasilan tidak tentu tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
b. Lingkungan rumah
Rumah milik pribadi, lantai dari ubin biasa, sumber air dari sumu, mempunyai WC sendiri, cahaya dapat masuk ruang kamar dan kebersihan lingkungan baik,.
c. Penyakit keluarga
Dari pihak ayah atau ibu tidak ada riwayat penyakit keturunan.
d. Genogram
Klien
Laki-laki
Perempuan
Tinggal dalam 1 rumah
VIII. PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI ( gunakan format Denver/DDST )
a. Personal social
b. Adaptif Motorik halus
c. Bahasa
d. Motorik kasar
Inteprestasi
Keterangan : tidak dilakukan pengkajian DDST karena usia anak sudah lebih dari 6 tahun.
XI. PENGAKAJIAN POLA KESEHATAN KLIEN SAT INI
a. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Klien memandang sakit adalah suatu keadaan yang tidak nyaman sehingga menurut klien harus sembuh
b. Nutrisi
- Sebelum sakit : makan 3x sehari, porsi habis (sayur dan lauk) ditambah snack
- Selama sakit : makan 2x sehari (Diit dari rumah sakit)
c. Cairan
- Sebelum sakit : 6 gelas sehari (@ 200cc), (air putih atau kadang Es teh).
- selama sakit : 2-4 gelas dan infuse RL
d. Aktivitas
- sebelum sakit : anak aktif, bersekolah, bermain dengan teman-teman
- selama sakit : terbatas, anak tampak lemas
e. Tidur dan istirahat
- sebelum sakit : malam 9jam, kadang- kadang tidur siang, tidur lelap
- selama sakit : malam 5jam, tidur siang, tidur sering terbangun karena suhu tubuh panas, dan waktu bangun anak tampak tidak segar dan lemas.
f. Eliminasi
- sebelum sakit : BAB 1xsehari dengan konsistensi lembek, BAK 5xsehari
- selama sakit : BAB 1xsehari dalam batas normal, BAK 3x sehari (dala batas normal)
g. Pola hubungan : Hubungan dengan orang tua baik
h. Koping atau temperamen dan disiplin yang diterapkan
Anak mampu mengekspresikan secara konstruktif apa yang ia tidak sukai.
i. Kognitif dan persepsi
Keluarga mampu menerima kondisi anaknya dan merasa yakin kalau kondisi anaknya bisa membaik dan bisa hidup secara normal kembali.
j. Seksual dan menstruasi
Klien jenis kelamin perempuan dan belum mendapatkan menstruasi pertama
k. Nilai
Orang tua /keluarga menganut agama Islam dan tinggal dilingkungan yang masih memegang adat Jawa kuat sehingga nilai dan norma masyarakat masih menjadi pedoman.
X. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
” Tingkat kesadaran : CM, BB : 25 kg
” Nadi : 96x/mnt Suhu : 39 c RR : 22x/mnt TD : 110/90 mmhg
b. Kepala
” Mata : Simetris, Conjuctiva tidak anemis, Sklera tidak ikterus
” Hidung : Tidak ada kelainan, tidak ada epistaksis, tidak nafas dengan
cuping hidung
” Mulut : mukosa bibir sedikit lembab, tidak ada stomatitis
” Telinga : Simetris ka/ki, discharge (-)
” Leher : tidak ada pembesaran kel.limfe
” Kulit : Kulit bersih, turgor kulit baik
c. Dada
Inspeksi : thoraks simetris kanan = kiri, KG (-), retraksi (-)
Palpasi : tidak ada ketinggalan gerak
Perkusi : Sonor
Auskultasi : paru-paru terdengar vesikuler
c. Abdomen : Tidak distensi abdomen, tidak kembung,
d. Genetalia : jenis kelamin perempuan, genetalia bersih, labia mayora
simetris, tidak ada lesi
e. Ekstremitas : Pada tangan kanan terpasang infus sejak , akral hangat, nadi kuat, perfusi
jaringan baik, capilary refill < 2″, gerakan ekstemitas baik, tidak ada
edema
f. Neurology : reflek anak baik
XI. TERAPI YANG DIPEROLEH
Nama Obat Dosis Rute Indikasi
Infuse RL 20 tpm i.v Rumatan
Paracetamol 3x 250mg Oral Antipiretik
XII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG
23-06-09 jam 07.47 24-06-09 jam 19.00 25-06-09 jam 08.00 25-06-09 jam 22.00 unit Range normal
WBC 2,6 5,1 2,6- 5,1 103mL 5-10
RBC 5,07 4,98 4,98 4,42 106mL 3,9-6,1
HGB 11,5 11,5 11,5 10,2- 9/dl 11,5-13,5
HCT 30,9- 34,7- 34,7- 35,4- % 47-75
MCV 69,8- 69,7- 69,7 69,9 Fl 80-99
MCH 22,7- 23,1- 23,1 23,1 Fl 27-31
MCHC 32,5- 33,1 33,1 33,0 Pg 33-37
PLT 184 129- 129 129- 103 mL 150-450
RDW 35,6 35,6 35,6 35,6 fL 35-45
PDW 15,7 15,7 15,7 15,7 fl 9-13
MPV 9,1 9,1 9,1 9,1 fl 7,2-11,1
P-LCR 21,3 21,3 21,3 21,3 % 15-25
XIII. INFORMASI LAIN ( mencakup rangkuman kesehatan klien dari gizi, fisioterapis, medis, dll )
XIV. ANALISA DATA
I. Analisa Data
No Data Penunjang Masalah Etiologi
DS : keluarga dan anak mengatakan
badan panas
DO : – S: 39
- Nadi : 96x/mnt
- tubuh klien teraba hangat Hypertermi
proses penyakit
DS : – klien mengatakan “saya mau
diapakan lagi”
- “Kapan saya pulang”
DO : – klien tampak gelisah
- Nadi : 96x/mnt
Cemas Krisis situasional (penyakit dan hospitalisasi)
DS :-
DO :- klien terpasang infus sejak kemarin sore( 22 juni jam 22.00)
- S: 39 c
- WBC : 2,6.103 mL Resiko infeksi
tindakan invasive
XV. PRIORITAS MASALAH
1. Hypertermi b.d proses penyakit keluarga dan anak mengatakan badan panas, S: 39, N: 96x/menit, tubuh klien teraba hangat
2. Cemas.b.d Krisis situasional ditandai dengan klien mengatakan “saya mau diapakan lagi” “Kapan saya pulang”, klien tampak gelisah, Nadi : 96x/mnt,
3. Resiko infeksi b.d tindakan invasive ditandai dengan klien terpasang infus S: 39 c, WBC : 2,6.103 mL
RENCANA KEPERAWATAN
NAMA KLIEN : An. S
RUANG : Melati 1 anak
DIAGNOSA MEDIS : febris hari ke-3
NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN/MASALAH KOLABORATIF TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
1.
2.
3. Hypertermi b.d proses penyakit
Cemas b.d Krisis situasional
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam menujukan temperatur dalam batas normal dengan kriteria:
- Suhu tubuh stabil 36-37,5 C
- Tidak teraba hangat
klien menunjukkan kontrol kecemasan setelah 3 x 24 jam tindakan keperawatan dengan kriteria:
Dapat mengidentifikasi, verbalisasi, dan mendemonstrasikan teknik menurunkan kecemasan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terdapat faktor risiko infeksi pada klien dengan kriteria:
- tidak ada tanda-tanda infeksi (dolor, kalor, rubor, tumor dan fungsiolesa)
- klien dan keluarga dapat mendeteksi risiko dan mengontrol risiko
o Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil
o Pantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi
o Berikan kompres hangat
o Motivasi untuk banyak minum
o Kolaborasi untuk mendapatkan antipiretik
Reduksi kecemasan
a. Kaji tingkat kecemasan dan respon fisiknya.
b. Gunakan kehadiran, sentuhan (dengan ijin), verbalisasi untuk mengingatkan orang tua tidak sendiri.
c. Terima pasien dan keluarganya apa adanya.
d. Gali reaksi personal dan ekspresi cemas.
e. Bantu mengidentifikasi penyebab.
f. Gunakan empati untuk mendukung orang tua.
g. Intervensi terhadap sumber cemas.
h. Jelaskan aktivitas, prosedur.
i. Gali koping orang tua.
j. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
k. Ajarkan teknik manajemen cemas.
Konrol infeksi :
1. Monitor tanda dan gejala infeksi.
2. Batasi pengunjung bila perlu.
3. Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan sesudahnya.
4. Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan.
5. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
6. Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
7. Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari.
8. Tingkatkan intake nutrisi.
9. berikan antibiotik sesuai program. Deteksi awal penting untuk cegah terjadinya kejang.
Lingkungan dapat mempengaruhi termoregulasi
Laju reaksi akan lebih cepat
Mencegah dehidrasi
Memperluas area efaporasi
Penurun panas
- Cemas bersifat individual. Secara normal merupakan respon fisik dan psikologis terhadap perubahan internal dan eksternal.
- Memberikan dukungan dan ketersediaan komunikasi.
- Akan merasa aman.
Membantu untuk mereevaluasi terapi dan penatalaksanaaan yang diberikan.
- Cemas merupakan respon negatif terhadap bahaya.
- Jika ancaman dihentikan respon cemas akan berhenti.
- Ketidaktentuan dan tidak adanya prediksi menyokong terjadinya cemas.
-Metode koping dapat membantu menurunkan kecemasan.
Informasi merupakan kekuatan dan menurunkan kecemasan.
Pnemuan secara dini tanda-tanda infeksi dapat mempercepat penanganan yang diperlukan sehingga klien dapat segera terhindar dari resiko infeksi atau terjadinya infeksi dapat dibatasi
Kondisi lingkungan memberikan pengaruh yang penting dalam terjadinya infeksi.
Penularan infeksi dapat melalui pengunjung yang mempunyai penyekit menular.
Tindakan antiseptik dapat mengurangi pemaparan klien dari sumber infeksi.
Perawatan luka setiap hari dapat mengurangi terjadinya infeksi serta dapat untuk mengevaluasi kondisi luka.
Konsumsi antibiotik sesuai program dapat mengurangi resiko resistensi kuman
CATATAN PERKEMBANGAN
No. Diagnosa Keperawatan Hari, Tgl, Jam Implementasi Evaluasi Nama & Paraf
1. Hipertemia b/d proses penyakit
Selasa,23
Juni 09
09.00 wib
11.00 wib
” Memonitor tekanan darah, nadi dan RR
” Memonitor penurunan tingkat kesadaran
” Memonitor warna dan suhu kulit
” Mengukur suhu
” Memberikan paracetamol 250mg
Selasa, 23 juni 09 jam 13.00 wib
S : Klien mengatakan badannya masih terasa panas,
O:
- Klien masih tampak lemah
- Kulit teraba panas
- suhu : 38ºc
- TD : 100/60 mmHg, Nadi : 88 x/mnt, RR : 22 x/mnt, WBC : 2,6
- Terpasang infuse RL 20 tpm
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Ukur vital sign
- Kompres hangat
- Berikan terapi obat sesuai prosedur
Agus
2. Cemas b/d proses hospitalisasi
Selasa, 23 juni 2009
09.00 wib
13.00 wib ” Menanyakan harapan klien
” Memahami prespektif pasien terhadap situasi stres
” Menemani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
” Mendengarkan dengan penuh perhatian
” Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi Selasa, 23 juni 09 jam 13.30
S : Klien mengatakan ingin pulang, takut berada di rumah sakit
O :
- Klien masih tampak ketakutan saat didekati perawat
- Klien menolak untuk dilakukan tindakan keperawatan
- Klien meminta untuk selalu ditemani keluarganya
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi dengan modifikasi
- Ajarkan klien untuk mereduksi cemas
Riyanah
3. Resiko infeksi b/d tindakan invasif Selasa, 23 juni 2009
10.00 wib
12.15 wib
” Mengukur suhu
” Memonitor tekanan darah, nadi dan RR
” Memonitor WBC
” Memonitor tanda-tanda infeksi
” Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan Selasa, 23 juni 09 jam 13.00
S : -
O:
- Terpasang infuse RL 20 tpm
- Kulit teraba panas
- suhu : 38 ºc, TD : 100/60 mmHg, Nadi : 88 x/mnt, RR : 22 x/mnt
- WBC : 26
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor tanda-tanda infeksi
- Ajarkan klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala infeksi
Agus
CATATAN PERKEMBANGAN
No. Diagnosa Keperawatan Hari, Tgl, Jam Implementasi Evaluasi Nama & Paraf
1. Hipertemia b/d proses penyakit
Rabu,
24 juni09
Jam: 09.00
10.00
” Memonitor tekanan darah, nadi dan RR, S
” Memberikan antipiretik
” Menganjukan keluarga untuk mengompres hangat
” Mengukur suhu
” Memberikan paracetamol 250mg
” Menganjukan keluarga untuk mengompres hangat
” Menganjurkan klien untuk memakai baju yang menyerap keringat
” Memotivasi klien untuk banyak minum rabu, 24 juni 2009 jam 11.00 wib
S : Klien mengatakan badannya tidak panas lagi, sudah minum banyak
O: Klien masih tampak lemah
- Tubuh klien tidak teraba panas, Suhu : 37,5 ºc
- TD : 100/70 mmHg, Nadi : 84 x/mnt, RR : 22 x/mnt
A : Masalah teratasi
P : hentikan perawatan
Riyanah
2. Cemas b/d proses hospitalisasi
Rabu,
24 juni
2009
Jam: 09.00
10.00 ” Kaji tingkat kecemasan dan respon fisiknya.
” Gunakan kehadiran, sentuhan (dengan ijin), verbalisasi untuk mengingatkan orang tua tidak sendiri.
” Terima pasien dan keluarganya apa adanya.
l. Menjelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
m. Gali reaksi personal dan ekspresi cemas rabu, 24 juni 2009 jam 12.00 wib
S : Klien mengatakan mau dirawat dirumah sakit asal jangan disuntik
O : Klien tampak tenang dan rileks saat didekati perawat dan mau berkomunikasi
- Klien meminta untuk selalu ditemani keluarganya
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Lakukan pendekatan yang menenangkan klien
- dengarkan dengan penuh perhatian
- mengajarkan teknik mengurangi cemas
Riyanah
3. Resiko infeksi b/d tindakan invasif Rabu,
24 juni
2009
Jam:
10.00
” rabu, 24 juni 2009 jam Memonitor WBC, Hb
” Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
” Memonitor tanda-tanda infeksi
Selasa, 23 juni 2009 jam 11.00 wib
S : -
O: Terpasang infuse RL 20 tpm
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Suhu : 37,5 ºc, TD : 100/70 mmHg, Nadi : 84 x/mnt, RR : 22 x/mnt
- WBC : 4,1
- Terpasang infuse RL 20 tpm
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor tanda-tanda infeksi
- Ajarkan klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala infeksi
Riyanah
CATATAN PERKEMBANGAN
No. Diagnosa Keperawatan Hari, Tgl, Jam Implementasi Evaluasi Nama & Paraf
2. Cemas b/d proses hospitalisasi
kamis, 25 juni 2009
jam:
05.00 ” Lakukan pendekatan yang menenangkan klien
” dengarkan dengan penuh perhatian
” mengajarkan teknik mengurangi cemas (relaksasi, nafas dalam)
kamis, 25 juni 2009 jam 07.30
S : klien tidak takut lagi dengan petugas kesehatan
O : – Klien tampak tenang dan rileks saat didekati perawat dan mau berkomunikasi
- Klien meminta untuk selalu ditemani keluarganya
A : Masalah teratasi
P : hentikan perawatan
Agus
3. Resiko infeksi b/d tindakan invasif kamis, 25 juni 2009
jam:
22.00 wib
05.00 ” Mengukur suhu
” Memonitor tekanan darah, nadi dan RR
” Memonitor WBC
” Memberikan antibiotik
” Memonitor tanda-tanda infeksi
” Membatasi pengunjung
” Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan kamis, 25 juni 2009
jam:
22.00
S : -
O: Terpasang infuse RL 20 tpm
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Suhu : 37,7 ºc
- TD : 100/60 mmHg
- Nadi : 82 x/mnt
- RR : 22 x/mnt
- WBC : 4,1
- Terpasang infuse RL 20 tpm
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor tanda-tanda infeksi
- Ajarkan klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala infeksi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar