Senin, 19 November 2012

LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK


LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK




A.    PENGERTIAN
Menurut prof.dr.Sidarta Ilyas,DSM
Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan bersih menjadi keruh.

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia
Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun
.
Menurut Daniel G.Vaughan,dkk
Katarak adalah kekeruhan lensa.

Kesimpulan:
Katarak adalah kekeruhan lensa atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina.


B.     ETIOLOGI
      Penyebab utamma katarak adalah proses penuaan.anak dapatt menderita katarak yang biasanya merupakkan penyakit yang diturunkan,peradangan didalam kehamilan.keadaan ini disebut sebagai katarak kongengital.
Penyebab katarak lainnya adalah:
  • Faktor keturunan
  • Cacat bawaan sejak lahir
  • Masalah kesehatan,missal diabetes
  • Penggunaan obat tertentu,khususnya steroid
  • Gangguan metabolisme seperti DM
  • Gangguan pertumbuhan
  • Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam jangka waktu lama
  • Rokok dan alcohol
  • Operasi mata sebelumnya
  • Trauma pada mata
  • Dan factor factor lain yang belum diketahui


C.    MANIFESTASI KLINIK
       Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif).penglihatan seakan akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar benar putih,sehingga reflek cahaya pada mata menjadi negative (-).
       Bila katarak dibiarkan mata akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
Gejala umum gangguan  katarak meliputi:
  • Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabutt menghalangi objek
  • Peka terhaadap sinar atau cahaya
  • Dapat melihat dobel pada satu mata
  • Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
  • Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu
  • Penglihatan buram atau berkabut,bahkan sampai tidak bisa melihat
  • Padaa keadaan terang mata terasa silau
  • Penglihatan semakin buraam pada sore hari
D.    MACAM KATARAK
Katarak dibagi menjadi 2, yaitu:
1.      Katarak kongenittal
2.      Katarak proses degeneratif :
a.       Katarak primer
b.      Katarak komplikata
1.      KATARAK KONGENITAL
·         Katarak congenital adalah kekeruhan lensa yang timbul pada saat pembentukan lensa
·         Kekeruhan sudah terlihat pada waktu bayi lahir
·         Sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, DM, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme, galaktosemiia

2.      KATARAK PROSES DEGENERATIF
A.    KATARAK PRIMER
A.    Katarak primer menurut umur ada 3 golongan:
Katarak juvenilis (umur < 20 tahun )
Katarak presenilis (umur 20-50 tahun)
Katarak senilis (umur > 50 tahun)
B.     Katarak primer dibagi menjadi 4 stadium:
a.       Stadium insipien
v  katarak stadium dini
v  visus belum terganggu
v  kekeruhan terutama terdapat pd bagian perifer berupa bercak   
     seperti jari jari roda
b.      Stadium immature
v  kekeruhan belum mengenai seluruh lap lensa
v  terjadi hidrasi kortek yang menyebabkan lensa konveks shg indeks refraksi berubah & mata menjadi myopia(intumesensi)
konveksnya lensa mendorong iris kedepan,menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi sempit dan menimbulkan komplikasi glukoma
c.       Stadium matur
v  terjadi pengeluaran air shg lensa berukuran normal kembali
v  lensa telah keruh seluruhnya shg semua sinar yang masuk pupil dipantulkan kembali
v  dipupil tampak lensa seperti mutiara

d.      Stadium dismatur
v  korteks lensa yang seperti bubur mencair shg nucleus lensa turun karena daya beratnya
v  melalui pupil nucleus kelihatan sebagai setengah lingkaran dibagian bawah dengan warna berbeda dari yang diatasnya yaitu kecoklatan
v  terjadi kerrusakan kapsul lensaa yg lebih permeable shg isi korteks dapat keluuar dan lensa menjadi kempis
              

B.     KATARAK KOMPLIKATA
C.     Katarak jenis ini terjadi sekunder/komplikasi dari penyakit lain seperti:
        gangguan okuler :retinitis pigmentosa, glukoma, ablasio retina, uveitis, myopia maligna
        Penny.sistemik:DM, hipoparatiroid, sindrom down mongoloid, dermatitis atopik
        Trauma : trauma tumpul, pukulan, benda asing didalam mata, sinar x, radioaktif, toksik kimia
D.    Merokok dan minnuman keras meningkatkan risiko berkembbangnya katarak


E.     PATOFISIOLOGI
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina.
·         Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh.
Otot otot siliaris relaksasi,menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil.dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil shg berkas cahaya pararel akan terfokus keretina
·         Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat
Otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang.kapsul lensa yang  elastic kemudian memmpengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya.kerja sama fisiologik antara korpus sillaris,zonula,dan lensa untuk memfokuskan benda dekat keretina dissebut sebagai akomodasi,seiring dengan pertambahan usia,kemampuan dalam refraksi lensa perlahan lahan akan berkurang,disebabkan karena perubaahan kimia dalam protein lensa shg terjadi koagulasi yang mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya keretina.
Lensa mata yang normal maka akan transparan dan mengandung banyak air,sehingga cahaya dapat menembusnya dengan mudah.tapi setelah mengalami gangguan maka lensa  akan mengalami kekeruhan,distorsi,dislokasi,dan anomaligeometri.pada orang yang mengalami lensa katarak memiliki cirri berupa edema lensa,perubahan protein,peningkatan proliferrasi,dan kerusakan kontinuitas normal serat serat lensa.secara umum edema lensa berfariasi sesuai stadium perkembangan katarak.
Katarak immature (insipien)hanya sedikit opak.
Katarak mature yang keruh total mengalami sedikit edema. Apabila kandungan air maksimum dan kapsul lensa terekam katarak disebut mengalami intumesensi (membengkak ).
Katarak hipermmature,air telah keluar dari lensa dan meninggalkan lensa yang sangat keruh,relative mengalami dehidrasi dengan kapsul berkeriput.
Secara kimiawi pembentukan katarak dapat disebabkan oleh penurunan penyerapan oksigen dan mula mula terjadi peningkatan kandungan air diikuti oleh dehidrasi. Kandungan natrium dan kalsium meningkat,kandungan kalium, asam askorbat dan protein berkurang.pada lensa yang mengalami katarak juga tidak ditemukan glutation.
Peningkatan kandungan air akan mematahkan serabut lensa yang tegang & menggangu transmisi sinar.
Protein yang berkurang dapat merusak dan menggumpal sehingga membentuk endapan yang menghalangi masuknya cahaya ke retina mata.

F.     PATHWAY


Traumatik tumpul,             Kelainan sistemik                     Obat tertentu,sinar UV
Tajam                                                                                      efek rokok, akohol       


Proses penuaan                              KATARAK                                         congenital


Perubahan warna        perubahan tekanan osmotic      penurunan ketajaman lensa                                                   dalam lensa                                       penglihatan


bintik putih di mata                kapsul lensa semi permiabel              MK:Kurang
                                                                                                              pengetahuan
gangguan citra diri                           rupture kapsuler                                


                                                        kerusakan lensa ruang             peningkatan TIO
                                                                 anterior


ketidakmampuan                                                                                nyeri
memodifikasi pencahayaan                      kebutaan      




MK:resiko cidera                                 perubahan sensoris/
                                                             Kerusakan sensoris           


                                                                     
                                                                   Kecemasan





          Sumber:(FKUI, 2000, Ilyas,1999, Effendy,1998, Vaugman.D.G,2000)
                                                                                

G.    PENATALAKSANAAN
1.      Secara Medis
Solusi untuk menyembuhkan penyakit katarak secara medis umumnya dengan jalan operasi.penilaian bedah didasarkan pada lokasi,ukuran dan kepadatan katarak.Katarak akan dibedah bila sudah terlalu luas mengenai bagian dari lensa mata atau katarak total.Lapisan mata diangkat dan diganti lensa buatan(lensa intraokuler).pembedahan katarak bertujuan untuk mengeluarkan lensa yang keruh.Lensa dapat dikeluarkan dengan pinset atau batang kecil yang dibekukan.kadang kadang dilakukan dengan menghancurkan lensa dan mengisap keluar.Adapun tekhnik yang digunakan pada operasi katarak adalah :


a.       FAKOEMULSIFIKASI
Merupakan teknologi terkini,hanya dengan melakukan sayatan (3mm) pada kornea. Getaran ultrasonic pada alat fakoemulsifikasi dipergunakan untuk mengambil lensa yang mengalami katarak,lalu kemudian diganti dengan lensa tanam permanent yang dapat dilipat. Luka hasil sayatan pada kornea kadang tidak memerlukan penjahitan, shg pemulihan penglihatan segera dapat dirasakan. Teknik fakoemulsifikasi memakan waktu 20-30 menit dan hanya memerlukan pembiusan topical atau tetes mata selama operasi.
b.      EKSTRA KAPSULER
Dengan teknik ini diperlukan sayatan kornea lebih panjang, agar dapat mengeluarkan inti lensa sec utuh, kemudian sisa lensa dilakukan aspirasi. Lensa mata yang telah diambil digantikan dengan lensa tanam permanent. Diakhiri dengan menutup luka dengan beberapa jahitan.
Ø  Ekstra Capsular Catarak Ekstraktie(ECCE)
Korteks dan nucleus diangkat, kapsul posterior ditinggalkan untuk mencegah prolaps vitreus, melindungi retina dari sinar ultraviolet dan memberikan sokongan untuk implantasi lensa intra okuler.
Ø  Intra Capsular Catarak Ekstraktie(ICCE)
Lensa diangkat seluruhnya
Keuntungannya prosedur mudah dilakukan
Kerugiannya mata berisiko mengalami retinal detachment (lepasnya retina )

2.      Terapi
Obat tetes mata dapat digunakan sebagai terapi pengobatan. Ini dapat diberikan pada pasien dengan katarak yang belum begitu keparahan. Senyawa aktif dalam obat tetes mata dari keben yang bertanggung jawab terhadap penyembuhan penyakit katarak adalah saponin. Saponin ini memiliki efek meningkatkan aktifitas proteasome yaitu protein yang mampu mendegradasi berbagai jenis protein menjadi polipeptida pendek dan asam amino. Karena aktivitas inilah lapisan protein yang menutupi lensa mata penderita katarak secara bertahap “diicuci” shg lepas dari lensa dan keluar dari mata berupa cairan kental berwarna putih kekuningan.
SARAN
Untuk pencegahan penyakit katarak dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C,vit.A,dan vit E


H.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ø  Retinometri
Tes yang dilakukan untuk mengetaahui apakah penglihatan yang turun itu disebabkan katarak atau tidak.
Ø  Keratometri
Ø  Pemeeriksaan lampu slit
Ø  Oftalmoskopis
Yaitu dengan melihat refleks merah didalam manik mata atau pupil. Apabila tidak ada katarak maka akan terlihat reflek merah padda pupil yang merupakan reflek retina yang terlihat melalui pupil. Bila terdapat katarak atau kekeruhan padat pada pupil maka refleks merah ini tidak akan terlihat.
Ø  A-Scan ultrasound (Echography )
Ø  Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi dan implantasi.




I.       PEMERIKSAAN FISIK
1.      Ketajaman Penglihatan
Cara termudah mengkaji penglihataan jarak dekat adalah dengan meminta klien membaca materi yang dicetak dibawah pencahayaan yang adekuat. Jika klien memakai kacamata ,kacamata dipakai saat pemeriksaan.
Pemeriksaan penglihatan jarak jauh dengan menggunakan snellen chart. Klien diminta duduk atau berdiri 6,1 m dari snellen chart untuk membaca semua huruf dimulai dari garis mana saja,pertama dengan kedua mata terbuka kemudian denggan satu mata tertutup dan minta klien tidak menekan mata. Skor ketajaman penglihatan dicatat untuk setiap mata dan kedua mata. Mata normal dapat membaca bagan dengan perbandingan 20/20.
2.      Gerakan Ekstraokuler
Meminta klien untuk menatap kekiri dan kekanan,atau minta klien duduk dan perawat mengangkat jari pada jarak (15-30 cm)lalu pasien mengikuti gerakan jari hanya dengan mata.
3.      Lapang Pandang
Pada saat seseorang memandang lurus kedepan,semua benda dibagian tepi normalnya dapat terlihat tanpa mata bergerak mengikuti benda (pandangan lurus).
4.      Stuktur Mata Ekstre
a.       Posisi dan kesejajaran mata
Ø  Adakah tonjolan (eksoftalamus)
Ø  Tumor atau inflamasi
b.      Alis
Ø  Simetris
Ø  Distribusi rambut
c.       Kelopak mata
Ø  Posisi,warna,kondisi permukaan,kondisi dan arah bulu mata,kemampuan klien untuk meembuka,menutup dan berkedip.
d.      Aparatus Laktrimal
Ø  Inspeksi : adanya edema atau kemerahan
Ø  Palpasi : normalnya tidak teraba
e.       konjungtiva dan sclera
Ø  konjungtiva : kemerahan
Ø  sclera : putih
f.       Kornea
Bagian mata yang transparan,tidak berwarna,menutupi  pupil dan iris
g.      Pupil dan iris
Ø  Pupil normal : hitam,bulat,regular,sama ukurannya
Ø  Iris :jernih
Ø  PERRLA (pupil sama,bulat,reaktif thd cahaya dan akomodasi )
5.      Struktur Interna Mata
            Bagian interna mata tidak dapat diobservasi tanpa bantuan alat untuk menerangi struktur strukturnya yaitu oftalmoskop,digunakan untuk menginspeksi fundus yang mencakup retina,koroid,discus saraf optikus,macula,fovea sentralis,dan pembuluh retina.

J.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Kecemasan ansietas b/d kerusakan sensori.
2.      Resiko terhadap cedera b/d kerusakan penglihatan (ketidakmampuan dalam memodifikasi pencahayaan)
3.      Nyeri b/d trauma, peningkatan TIO (Tekanan Intra Okuler).

K.    FOKUS INTERVENSI
1.      Kecemasan atau ansietas
Kriteria
a.       Pasien mengungkapkan rasa cemas
b.      Pasien nampak rileks tidak tegang,mengungkapkan kecemasan berkurang
c.       pemahaman penyakit
Intervensi
1.      Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda-tanda verbal dan non verbal
2.      Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiraan dan perasaan takutnya
3.      obserfasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien .
4.      Beri penjelasan dan support pada pasien pada setiap melakukan prosedur tindakan.
5.      Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan peralatan yang akan digunakan.

2.      Resiko terhadap cidera yang berhubungan dengan kerusakan penglahatan atau kurang pengetahuan.
Kriteria hasil:
Pasien terhindar dari cidera

Interfensi:
1.      Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi paska operasi sampai stabil dan mencapai penglihatan dan ketrampilan koping yang memadai.
2.      Bantu pasaien menata lingkungan.
3.      Orientasikan pasien pada ruangan.
4.      Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperintahkan.
5.      Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma
6.      Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata

3.      Nyeri berhubungan dengan trauma,peningkatan tekanan intra okuler
Kriteria hasil:
1.      Klien mengungkapkan nyeri berkurang /hilang
2.      Tidak merintih atau menangis
3.      Ekspresi wajah rileks
4.      Klien mampu istirahat dengan baik
            Intervensi :
1.      Kaji nyeri,catat lokasi,karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10)
2.      Motivasi untuk melakukan teknik pengaturan nafas dan mengalihkan
3.      Perhatian
4.      Hindari sentuhan seminimal mungkin untuk mengurangi rangsangan nyeri
5.      Berikan analgetik sesuai dengan program medis


DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth.2001.KMB.EGC:Jakarta

Doengoes. 2000.Rencana Asuhan Keperawatan.EGC:Jakarta

Ilyas, Sidarta,dkk.2002.Ilmu Penyakit Mata.Jakarta:agung seto

Ilyas,Sidarta.1997.Katarak(lensa mata keruh).FKUI:Jakarta

Potter& Perry.2005.Fundamental Keperawatan.EGC:Jakarta

Vaughan,Daniel g,dkk.2000.Oftalmologi Umum.Jakarta:Widya Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar