Minggu, 20 Januari 2013

LAPORAN PENDAHULUAN “FARINGITIS”


LAPORAN PENDAHULUAN
“FARINGITIS”


1. DEFINISI
Faringitis adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring kadang disebut juga sebagai radang tenggorokan.

2. JENIS FARINGITIS
A. Faringitis Akut
Yaitu radang tenggorok yang disebabkan oleh organisme virus hampir 70% dan streptokakus group A adalah organisme bakteri yang umum berkenaan dengan faringitis akut yang kemudian disebut sebagai “streepthroat”.
B. Faringitis Kronik
Faringitis kronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja/tinggal dengan lingkungan berdebu, menggunakan suara berlebihan, menderita akibat batuk kronik, penggunaan habitual alkohol dan tembakau.
Ada 3 jenis faringitis :
1. Hipertrofik ( penebalan umum dan kongesti membrane mukosa faring ).
2. Atrofik ( tahap lanjut dari jenis pertama : membran tipis, keputihan, licin dan waktunya berkerut ).
3. Granular kronik/clegymans sore throat (pembengkakan folikel limfe pada dinding faring).

3. ETIOLOGI
Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononucleosis atau HIV.
Bakteri yang menyebabkan faritingitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
5. MANISFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis faringitis akut, yaitu :
- Membran mukosa sangat merah dan tonsil berwarna kemerahan.
- Folikel limfoid membengkak dan di penuhi dengan eksudat dan pembesaran.
- Nyeri tekan nodus limfa servikal.
- Demam
- Malaise
- Sakit tenggorok
- Serak dan batuk
- Sakit kepala
Manifestasi klinis faringitis kronik yaitu :
Pasien dengan faringitis kronik mengeluh sensasi iritasi dan sesak pada tenggorok yang terus-menerus, lendir yang terkumpul dalam tenggorok dan dapat dikeluarkan dengan membatukkan, kesulitan menelan.

6. PENATALAKSANAAN
- Untuk faringitis akut :
Jika di duga atau ditunjukkan adanya penyebab bakterial, pengobatan dapat mencakup pemberian Agens antimicrobial untuk streptokukus group A, penisilin merupakan obat pilihan. Untuk pasien alergi terhadap penisilin atau yang mempunyai organisme resisten terhadap eritromisin digunakan sefalosporin. Antibiotik di berikan selama sedikitnya 10 hari untuk menghilangkan streptokokus group A dari orofaring.
Diet cair atau lunak diberikan selama tahap akut penyakit, tergantung pada nafsu makan pasien dan tingkat rasa tidak nyaman yang terjadi bersama proses menelan. Kadang tenggorok sakit sehingga cairan tidak dapat di minum dalam jumlah yang cukup dengan mulut. Pada kondisi yang parah, cairan diberikan secara intravena. Sebaliknya, pasien didorong untuk memperbanyak minum sedapat yang ia lakukan dengan minimal 2 sampai 3 liter sehari.
- Untuk faringitis kronik
Didasarkan pada penghitungan gejala, menghindari pemajanan terhadap iritan, dan memperbaiki setiap gangguan saluran napas atas, paru atau jantung yang mungkin mengakibatkan terhadap batuk kronik.
Kongesti nasal dapat dihilangkan dengan sprei nasal / obat-obatan yang mengandung epinefrin sulfat (Afrin) atau fenilefrin hidroklorida (Neo-Synphrine). Jika terdapat riwayat alergi, salah satu medikasi dekongestan antihistamin seperti Drixarol / Dimentapp, diminum setiap 4-6 jam. Malaise secara efektif dapat dikontrol dengan aspirin / asetaminofen.

1. PENGKAJIAN
o Pengumpulan data baik subjektif maupun objektif tergantung pada lokasi adanya komplikasi pada alat-alat pernapasan bagian atas.
o Anamnesa
Adanya riwayat merokok, adanya riwayat streptococcus, dan yang penting ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri / lesi pada mulut (nyeri saat menelan).

2. PEMERIKSAAN FOKUS
o Look
Terkadang pasien dengan faringitis yang disertai dengan gejala flu yang lain seperti demam, sakit kepala, pilek, dan batuk. Namun penyakit ini dengan mudah dapat dikenali dengan pemeriksaan tenggorokan pasien. Pada pemeriksaan ini ditemukan peradangan pada daerah faring dan tanda berupa kemerahan serta ditemukan pembesaran pada kelenjar limfe regional / disekitarnya, pada kasus yang berat bisa ditemukan nanah / eksudat.



o Feel
Pasien mengalami nyeri tenggorakan dan nyeri menelan. Hal ini disebutkan karena adanya peradangan pada faring.

o Move
Dapat menentukan apakah ada keterbatasan gerak pada leher karena adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah keperawatan utama pada faringitis :
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada tenggorokan.
Intervensi :
- Kaji ulang tingkat nyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Berikan penkes sederhana tentang penanganan nyeri.
- Kolaborasi dalam pemberian analgetik
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesulitan menelan atau nyeri menelan
Intervensi :
- Kaji tingkat intake makanan klien
- Anjurkan klien untuk makan makanan yang tinggi kalori dan serat.
- Anjurkan klien makan makanan sedikit tapi sering.
- Anjurkan klien untuk makan makanan yang disediakan selagi hangat.
3. Kerusakan komunikasi verbal b/d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan.
Intervensi :
- Kaji tingkat berkomunikasi klien
- Anjurkan klien untuk tidak mencoba bicara.
- Anjurkan klien untuk berkomunikasi lewat tulisan.
Faktor predisposisi : sinusitis, rhinitis kronik, perokok dan peminum alkohol, infeksi, daerah berdebu, kebiasaan bernapas melalui mulut4. PATOFISIOLOGI FARINGITIS


Iritasi kuman ke faring
Faringitis
Faringitis Akut
Demam
Lesu, nyeri sendi
Diaforesis
Defisit volume
Caian
Kurang pergerakan
Kekakuan anggota gerak
Gangguan mobilisasi
Kerusakan integritas fisik
Nyeri perut, mual, muntah
Anoreksia
Gangguan asupan nutrisi
Dispepsia
Tubuh kekurangan nutrisi
Ketidakseimbangan nutrisi
Faringitis Kronik
Otitis media akut
Eksudat cairan dikavum timpani
Gangguan pendengaran
Abses peritonsil
Dehidrasi, perdarahan
Gangguan keseimbangan dan elektrolit
Abses farafaring
Peningkatan tekanan intrakranial
Nyeri kepala
Bronkitis
Suplai O2 terganggu
Hipoksia
Infeksi
Iritasi jalan napas
Nyeri



DAFTAR PUSTAKA


- Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 1. Jakarta : EGC.
- Mansjoer, Arif et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid I FKUI : Media Aescukpius.
- Potter, Patricia A. 1956. Pengkajian Kesehatan. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar